Belum lama ini ada seorang kawan yang bertanya lewat meebo, apa kita lebih suka hidup dengan pertanyaan atau dengan jawaban. Pertanyaannya menarik juga, kesempatan intellectual exercise yang bagus di saat semua terasa berjalan begitu cepat (atau sangat lambat, dalam beberapa hal, hehe). Mungkin dia tidak bermaksud begitu
) but anyway, I jumped right in.
Menurut kawanku itu, yang mengaku terinspirasi oleh buku “A Father’s Affairs” yang baru dia baca, dia ingin tahu apakah orang lebih suka menyimpan pertanyaan ke dirinya sendiri atau mencari jawaban dari pertanyaan itu. Diambilnya “contoh kasus” pasangan suami-istri yang punya anak dan 5 tahun kemudian sang suami diberitahu oleh seorang dokter bahwa dia sebenarnya mandul. Menurut kawanku yang nampaknya gemar menonton sinetron ini, masalahnya apakah sang suami akan menyimpan sendiri pertanyaan “siapa ayah anakku” itu, atau mencari jawabannya, yang berarti bisa memecah-belah keluarga yang dicintainya?
Kupikir, kebanyakan dari kita sesungguhnya hidup dari upaya mencari jawaban, dari satu pertanyaan ke pertanyaan lainnya. It’s just our nature to think and wonder. Karena itu, pertanyaan demi pertanyaan akan selalu muncul di kepala kita. Makanya kan drama menjadi begitu menarik untuk kita tonton? Laku para tokoh mencari jawaban dari berbagai plot pengkhianatan, balas dendam, intrik. Kita melihat refleksi perjalanan hidup kita disana.
Demikian juga dalam problem-solving sehari-hari diperlukan kejelian untuk membedakan mana yang menjadi pokok masalah (pertanyaan) dan mana yang menjadi jalan keluar (jawaban). Misalnya saja, seks itu bukanlah jawaban. Seks (?) itu adalah pertanyaan, dan ya-ya-ya adalah jawabannya, huahahaa… (Sori udah ga tahan pengen ngegaring!)
Kembali ke bahasan kita, masalahnya kemudian seberapa kuat keinginan kita untuk mencari jawaban dari pertanyaan itu. Mereka yang sudah resah sekali mungkin akan berseru, “Aku tak bisa hidup tanpa mengetahui!”, sementara yang lebih mengutamakan prinsip-prinsip harmoni dan ketenangan mungkin akan berpendapat, “Yah sudahlah, kita tidak perlu mencari-cari masalah.”
Seperti kata seorang bijak, semua masalah terpulang pada kita yang mengalaminya. [*]
Oalah Lik.. mumet aku moco tulisan ngene iki esuk-esuk..
Hehe..
Eniwei, ciecie *dengan gayanya apung* sekarang dah ngeblog..
jadi dan, mending lu hidup dg pertanyaan?? huehehehe…
ada term baru Dan (ini kata dosenku waktu comment tulisanku hihihi), try to ask questions rather than always try to find the answers…makanya nanya aja mulu … hehehe