Melihat kelakuan para wakil kita Anggota Dewan yang sudah semakin meresahkan belakangan ini, kita cuma bisa mengelus dada saja. Tindak-tanduk mereka kian kelewatan, dan jelas makin jauh dari amanat membela kepentingan rakyat .
Lihat saja misalnya penolakan mereka membawa kasus-kasus Semanggi dan Trisakti, pelanggaran HAM berat terhadap rakyat ke pengadilan. Atau titik rendah yang paling mutakhir, kasus pengadaan laptop bagi semua anggota Dewan. Tidak cukup negara memberikan mereka kekayaan dengan gaji yang jauh di atas rata-rata, kini mereka tidak segan memeras uang rakyat untuk membelikan barang keperluan pribadi.
Luar biasa khianat dan rakusnya mereka. Itu sudah sangat jelas seterang siang. Namun anehnya, sebagai warga yang pernah memilih mereka, kita tidak pernah bisa meminta pertanggungjawaban para anggota Dewan yang terhormat.
Satu hal, sistem perwakilan kita nampaknya tidak memungkinkan kita untuk melakukan hal itu. Mekanisme check-and-balance pun nampak tinggal di angan belaka, melihat Presiden dan MA yang sudah berada di tahap pembusukan kritis.
Para begawan politik negeri ini mencoba membesarkan harapan kita dengan mengatakan rakyat bisa menghukum wakilnya yang bejad dengan tidak memilih dia lagi pada kesempatan pemilu berikutnya. Kalau pilihan baru itu juga sama atau lebih error, kita bisa menghukum dia dengan memberikan suara kita untuk calon lain. Demikian seterusnya.
Kenyataannya, melaksanakan hak pilih sudah semakin menjadi self-defeating process bagi kita. Aksi “terus memilih hingga dapat yang benar” semakin terasa seperti buang-buang waktu dan harta milik rakyat, dan semakin menjauhkan kita dari momentum perbaikan yang kita semua jelas dambakan.
Setelah sekian pemilu dan melihat perilaku siapapun yang terpilih sama saja, akhirnya bolehlah kita buat paling tidak satu simpulan bahwa sistemnya yang memang tidak benar.
Sistem pemilu yang sekarang sangat mendukung perilaku tidak amanah, memungkinkan “wakil” rakyat untuk tidak loyal kepada mereka yang telah memilihnya, literally getting away with our vote, our money, and our dignity every five years. Kita relakan pula kebodohan itu terus berlangsung. Tragis.
Oleh karena itu, mengapa menerima saja keadaan berlangsung terus seperti ini? Mengapa tidak kita tiadakan saja suara kita dari proses yang menzalimi diri sendiri ini?
Betul, apa boleh buat, nampaknya tidak ada jalan keluar lain selain golput. Iya, golput. Tidak memberikan suara kita hingga sistem perwakilan yang lebih baik berlaku di negeri ini.
Dengan golput, ada keyakinan bahwa desakan yang kuat akan muncul untuk mendorong perbaikan. Anggaplah kita memberlakukan moratorium bagi hak pilih kita, hingga ada jaminan konkrit bagi keterwakilan kita di parlemen.
Ini sama sekali bukan pilihan yang amoral. Dengan golput, kita tetap pro-demokrasi, pro-sistem perwakilan, pro-parpol (mana saja yang anda pilih, terserah anda), dan jelas tetap berpijak pada kenyataan. Satu-satunya yang kita anti adalah status quo yang menyengsarakan ini.
Apa itu, sistem perwakilan yang lebih baik? Yang jelas, kita tentu ingin wakil kita loyal dan berkomitmen kepada kepentingan rakyat yang memilihnya, bukan kepada partai.
Ke depan, kita tentu ingin suara kita digunakan untuk mencapai konsensus nasional yang kuat, agar pemerintah kita stabil dan dapat bekerja sungguh-sungguh untuk kepentingan rakyatnya, tidak takut-takut melangkah seperti sekarang ini.
Semoga kita semua dapat bekerja bersama dengan memanfaatkan persamaan-persamaan kita, bukan dengan membesar-besarkan perbedaan diantara kita.
Mari menunggu hingga the real choice muncul, agar kita tidak menyakiti diri sendiri. Mengapa? Karena hidup terlalu singkat untuk membuat pilihan yang salah. [*]
kondisi politik indonesia yang so called “reforming” masih meninggalkan serangkaian pekerjaan rumah yang tidak kunjung selesai, saya setuju dengan pendapat saudara webmaster, pertanyaan selanjutnya jika pekerjaan rumahnya belum selesai, guru manakah yang berhak memberikan hukuman?!!! People Power
F.y.i I didn’t vote for them lho hehehe (tetep demokratis to)….hayo para pemilih urusin tuh pilihannya yg pada nglunjak en ternyata gaptek juga…(termasuk kau Dan, hehe)